Rabu, 01 Oktober 2014

Sejarah Kecamatan Samarinda Ulu

SEJARAH KECAMATAN SAMARINDA ULU
Samarinda Ulu adalah sebuah kecamatan di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia. Kecamatan ini dibentuk pada tahun1960 bersamaan dengan berdirinya pemerintahan kota Samarinda. Kecamatan ini juga sebagai pusat kota, terutama di bagian selatan, karena berbagai fasilitas sarana dan prasarana.
Pada rentang waktu 1960 hingga 1997, luas kecamatan Samarinda Ulu adalah 127,49 km² hingga pada tahun 1997 diadakan pemekaran kecamatan menjadi dua, yakni kecamatan Samarinda Ulu dengan luas 58,26 km² dan kecamatan Sungai Kunjangdengan luas 69,23 km².

Batas wilayah[sunting | sunting sumber]

Batas-batas wilayah kecamatan Samarinda Ulu adalah sebagai berikut :
UtaraTenggarong Seberang, Kutai Kartanegara
SelatanKecamatan Sungai Kunjang dan Sungai Mahakam
BaratKecamatan Sungai Kunjang
TimurKecamatan Samarinda Utara dan Samarinda Ilir

Kelurahan[sunting | sunting sumber]

Saat ini kecamatan Samarinda Ulu memiliki 8 kelurahan :
  1. Teluk Lerong Ilir[1]
  2. Jawa
  3. Dadi Mulya[2]
  4. Sidodadi
  5. Gunung Kelua[3]
  6. Air Hitam[4]
  7. Air Putih
  8. Bukit Pinang[5]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Teluk Lerong Ilir atau Teluk Lerong adalah hasil pemekaran dari kelurahan Teluk Lerong. Namun, sejak pemekaran kecamatan Samarinda Ulu menjadi kecamatan Sungai Kunjang, maka kelurahan Teluk Lerong pun dimekarkan. Salah satunya berada di kecamatan Sungai Kunjang dengan namaTeluk Lerong Ulu.
  2. ^ Dadi Mulya adalah hasil pemekaran Kelurahan Sidodadi pada tahun 1997
  3. ^ Gunung Kelua adalah hasil pemekaran kelurahan Sidodadi pada tahun 1997
  4. ^ Air Hitam adalah hasil pemekaran dari kelurahan Air Putih pada tahun 1997
  5. ^ Bukit Pinang adalah hasil pemekaran dari kelurahan Air Putih pada tahun 2006.

Selengkapnya...

Minggu, 22 Desember 2013

Pembagian Hadiah Lomba Dasawisma PKK Kecamatan Samarinda Ulu


Hadiah Lomba Dasawisma Kecamatan Samarinda Ulu dihadiri oleh Wakil walikota Samarinda

Selengkapnya...

Minggu, 02 Oktober 2011

Berbahaya...!!! (47,5% Jajanan Anak Kaltim Mengandung Formalin)

SAMARINDA- Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Samarinda yang menguji sampel makanan jajanan anak-anak pada Sekolah Dasar (SD) di Kaltim, ternyata masih menemukan 47,5 persen jajanan mereka tidak memenuhi syarat kesehatan. Diantaranya karena mengandung zat-zat dan bahan berbahaya, seperti formalin, boraks, rhodamin, siklamat, benzoat dan mikrobiologi lainnya. Pengujian terakhir bulan Maret 2011 lalu itu, dilakukan pada 31 sekolah dasar di tiga kota utama di Kaltim yakni Samarinda, Balikpapan dan Bontang. Di Samarinda ada 16 SD dengan 105 sampel, di Balikpapan 12 SD dengan 84 sampel dan di Bontang ada 3 SD dengan 21 sampel. Jadi totalnya ada 210 sampel diuji. “Dari 210 sampel jajanannya itu, terdapat 95 sampel atau sekitar 47,5 persen diantaranya tidak memenuhi syarat kesehatan. Sedangkan sebanyak 115 sampel sudah memenuhi syarat kesehatan,” ujar Kasi Layanan Informasi Konsumen BBPOM kemarin. Menurut Yanti, masih banyaknya ditemukan zat berbahaya di jajanan anak-anak SD tersebut antara lain rendahnya pengetahuan para penjual makanan. Karena itu, sejauh ini BBPOM di Samarinda selalu memberikan penyuluhan kepada mereka. “Kita memang belum bisa memberikan penindakan karena pada umumnya mereka adalah para pedagang kecil. Jadi sejauh ini masih kita berikan penyuluhan pentingnya kesehatan makanan,” kata Yanti. Dari sejumlah zat-zat berbahaya itu, memang terbanyak menurut hasil pengujian karena faktor mikrobiologi. Misalnya makanan tidak sehat karena tidak terjaganya sistem higienisitasnya. “Bisa saja karena tidak terjaganya kebersihan jajajanan. Misalnya makanan tertentu yang kerap dijual dengan cara berkeliling kota. Akibatnya makanan tercemar dan cara penjualan yang sembarangan,” kata Yanti. Ini terlihat dari 95 sampel atau 47,5 persen makananan tak memenuhi standar kesehatan tersebut, terdapat 67 sampel karena faktor mikrobiologi. Akibat formalin ada 4 sampel, boraks ditemukan pada 5 sampel, rhodamin B pada 4 sampel, siklamat pada 12 sampel dan benzoat ada pada 3 sampel. “Untuk itu, kita imbau agar orang tua dan para guru di sekolah bisa membantu memberikan penyuluhan dan pengertian kepada anak-anak agar tidak semabarangan jajan. Apalagi jajan makanan yang berpotensi mengandung zat-zat tersebut,” tandas Yanti. (Sumber :  Koran Kaltim)
Selengkapnya...

Keringat Rakyat Meraih Mimpi (Untuk Kebanggaan dan Harga Diri, Negara dan Keluarga)

Bintang dan calon atlet negeri ini lahir dari rakyat di kampung-kampung. Kaum muda dan para orangtua mereka sama-sama memeras keringat untuk meraih prestasi. Bahkan, ada yang harus menjadi pemulung atau menjual panci demi menggapai mimpi. Anak muda calon bintang lapangan itu bernama Ferdiansyah alias Endoy. Ia tinggal di rumah sempit di Gang Nangka, Sawangan, Depok, Jawa Barat. Di gang sempit itulah Endoy sejak kecil suka menendang bola dari gulungan kertas. Sejak kecil, dia bermimpi menjadi pesepak bola. Tujuannya satu: mengangkat harkat dan martabat keluarga! Dan, pintu ke arah itu mulai terbuka ketika dia lulus mengikuti seleksi tim nasional usia 16 tahun pada 2008. Ia dikirim ke Uruguay bersama teman-temannya untuk berlatih hingga sekarang. ”Setiap hari kerja saya cuma latihan, bertanding, dan belajar bahasa Spanyol,” ujar Endoy lewat surat elektronik dari Uruguay. Di setiap inci perjalanan karier Endoy terkandung perjuangan hebat ibunya, Susi Hanakin (47). Yakin bahwa anaknya berbakat, Susi mendaftarkan Endoy (ketika itu berusia enam tahun) ke Sekolah Sepak Bola (SSB) Pelita Bakrie di Stadion Lebak Bulus, Jakarta. ”Waktu itu banyak tetangga mencemooh karena kami miskin. Mereka bilang, ’ngapain lu nyekolahin anak ke SSB, enggak bakal sanggup bayar, deh’,” ujar Susi di rumahnya, Senin (19/9) siang. Diejek demikian justru membuat tekad Susi makin kuat. ”Saya akan buktikan bahwa saya bisa. Apa pun saya kerjakan untuk membiayai Endoy jadi pemain bola,” kata Susi yang menjadi pencari nafkah utama karena suaminya sakit-sakitan. Sejak saat itu perjuangan hidup Susi kian berat. Untuk membiayai Endoy, dia bekerja sebagai tukang cuci pakaian di tujuh rumah. Jam kerjanya terbentang mulai beduk subuh sampai malam. ”Upah dari dua rumah saya khususkan untuk memenuhi kebutuhan Endoy. Sisanya untuk makan sekeluarga,” ujar Susi yang mendapat upah Rp 250.000 dari setiap rumah. Kian hari kebutuhan Endoy kian banyak. Susi tidak hanya harus membayar iuran bulanan serta membeli sepatu dan seragam, tetapi juga harus menyediakan makanan bergizi. ”Pelatihnya bilang supaya postur tubuh Endoy bagus dan tinggi, dia harus minum susu dan makan makanan bergizi. Ya... jangankan beli susu, bayar iuran bulanan SSB saja saya sering utang (dari) teman,” kata Susi. Memulung dan jual panci Ketika bingung mencari penghasilan tambahan, Susi melihat botol plastik bekas kemasan air minum bertebaran di Stadion Lebak Bulus setiap selesai latihan atau pertandingan sepak bola. Tanpa malu-malu, dia mengumpulkan botol bekas dan menjualnya. ”Sejak saat itu saya jadi pemulung botol bekas di Lebak Bulus dan Senayan.” Susi datang ke Lebak Bulus atau Senayan setiap ada latihan atau pertandingan sepak bola. Agenda utamanya bukan menonton, melainkan memulung. ”Saya bawa tas seperti orang mau kerja, padahal isinya karung. Lumayan, rata-rata saya dapat empat karung botol bekas,” katanya. Ketika Endoy pindah ke SSB Villa 2000 di Pamulang, wilayah Susi memulung makin luas. Dia dan Endoy biasa jalan kaki sekitar 7 kilometer dari rumahnya ke tempat latihan SSB itu. Sepanjang perjalanan, mereka memunguti botol bekas. ”Setiap minggu saya dapat Rp 300.000 dari jual botol bekas. Uang itu khusus untuk beli susu, kacang hijau, tempe, dan makanan bergizi Endoy. Tak apa kami tidak makan, yang penting Endoy makan,” kata ibu tiga anak itu. Pendapatan dari memulung tetap belum bisa menutup kebutuhan Endoy. Susi pun nekat menjadi kernet minibus jurusan Lebak Bulus-Rambutan untuk mendapat tambahan penghasilan. ”Saya jadi kernet enam bulan. Duitnya untuk membiayai Endoy sekolah dan main sepak bola.” Upaya keras Endoy dan ibunya mulai tampak hasilnya. Endoy menjadi pemain timnas U-13 dan timnas U-16. Endoy pernah mengirim sebagian uang sakunya untuk memelur lantai rumah yang sebelumnya masih tanah. ”Dia juga membelikan saya televisi bekas,” ujar Susi sambil duduk lesehan di lantai rumah. Di rumah itu belum ada kursi. Tamu yang datang duduk di tikar yang telah lusuh. Selain tikar, di sana hanya ada televisi dan kipas angin. ”Dia jadi pemain timnas (yunior) saja sudah membanggakan, apalagi masuk televisi. Kalau soal materi, saya tidak terlalu mikir. Kami sudah terbiasa miskin,” katanya. Jual panci Upaya gigih serupa juga ditempuh Kastori (45). Ia juga mesti jungkir balik membiayai anaknya, Ayang Abdulrojak (15), yang ingin jadi kiper profesional. Maklum, penghasilan Kastori sebagai petugas keamanan dan kerja serabutan rata-rata hanya Rp 1 juta per bulan. ”Penghasilan saya jauh dari cukup. Untuk beli sarung tangan seharga Rp 175.000 setiap empat bulan sekali, saya kelimpungan,” kata Kastori sambil memandangi sarung tangan anaknya yang bolong di sana-sini. Kalau sudah kepepet, barang apa saja yang ada di rumah dia jual. ”Saya pernah jual panci bekas ke tukang loak untuk ongkos Ayang bertanding,” katanya. Perjuangan anak meraih mimpi jadi atlet tidak kalah beratnya dengan sang orangtua. Tengoklah pebulu tangkis remaja di PB Jaya Raya, Jakarta. Mereka rela jauh dari orangtua demi mengejar prestasi. Laudza (12) datang dari Jambi, Laras (12) dari Purwokerto, dan Ashar (12) dari Makassar. Di Jakarta, para remaja ini harus mengurus keperluan mereka sendiri serta membagi waktu antara latihan yang berat dan sekolah. ”Berat sih pasti, tetapi mau bagaimana, semua harus dijalani supaya jadi atlet berprestasi,” kata Laras yang mengidolakan pebulu tangkis Susi Susanti. Ketika mereka berprestasi, ikut berbanggalah bangsa ini. Ketika mereka bekerja keras, siapa peduli? Ah, Indonesia.... (Budi Suwarna & Yulia Satphiani) sumber (Kompas bola)
Selengkapnya...

Senin, 26 September 2011

PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DALAM PROGRAM UP2K-PKK

Dalam system pembangunan nasional tidak ada satu pun peraturan atau kebijakan yang menghambat kaum perempuan di Indonesia untuk berperan, baik secara politis, ekonomi maupun sector kehidupan lainnya. Bahkan peran perempuan ini selalu dikedepankan dan menjadi perhatian utama dalam kerangka pelaksanaan pembangunan. Hal ini tergambar dari formulasi pelaksanaan program Inpres Desa Tertinggal (IDT) dan Program Makanan Tambahan untuk Anak SD (PMT-SD) yang memfokuskan perempuan sebagai aktor utamanya.[1] Urgensi penempatan peranan dan potensi perempuan dalam proses pembangunan secara optimal akan dapat mempercepat tujuan nasional. Tujuan nasional ini hanya dapat terwujud apabila laki-laki dan perempuan melakukan perannyaOleh karena itu upaya pemberdayaan perempuan harus selalu dikedepankan dan mendapatkan prioritas utama, sehingga eksistensi kaum perempuan dalam semua dimensi kehidupan dapat sejajar dengan laki-laki. Dalam hal ini tidak ada lagi gender bias (ketidakadilan jender) yang sampai saat ini di Indonesia masih dirasakan oleh mayoritas kaum perempuan. Terjadinya ketidakadilan jender secara holistic lebih disebabkan oleh adanya konstruksi atau rekayasa sosial yang turun temurun, sehingga terinternalisasi dalam kehidupan masyarakat, berupa suatu bentuk ketidakadilan yang dialami oleh kaum perempuan. Juga faktor religiusitas yang dipahami oleh sebagian besar pemeluknya untuk lebih memberikan hak-hak istimewa (privilege) yang dinikmati kaum laki-laki dalam kedudukan khususnya di dalam kehidupan bersama. Ketidakadilan jender dalam kehidupan mengambil bentuk-bentuknya yang spesifik, yaitu marjinalisasi, subordinasi, stereotip, dan violence (kekerasan) terhadap kaum perempuan. Keberadaan perempuan dalam struktur ekonomi selalu dikesampingkan (dimarjinalisasikan), sehingga perempuan kehilangan sumber-sumber pebdapatannya. Begitu pula secara struktural perempuan disubordinasi oleh kaum laki-laki, sehingga perempuan harus selalu tunduk dan patuh terhadap struktur kekuasaan laki-laki. Hal ini pada gilirannya dapat menjadikan distorsi bahkan pengendapan terhadap potensi yang dimiliki oleh kaum perempuan. Pada akhirnya perempuan memiliki stereotif sebagai makhluk yang lemah, tidak berdaya, tidak kreatif, dan hanya cocok untuk pekerjaan-pekerjaan domestik un sich. Dengan demikian sering terjadi bentuk-bentuk kekerasan (violence) yang dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan.[2] Fenomena ketidakadilan gender (gender bias) itu sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan perempuan Indonesia secara umum. Oleh karena itu upaya untuk melakukan penyadaran terhadap perempuan akan pentingnya perspektif gender dalam semua dimensi kehidupan menjadi sebuah keniscayaan. Dari perspektif ini kemudian akan melahirkan bentuk kesadaran baru yakni pemberdayaan perempuan dalam proses pembangunan bangsa. Upaya pemberdayaan perempuan ini pada hakekatnya merupakan peningkatan harkat dan martabat kaum perempuan yang dalam kondisi saat ini tidak mampu untuk melepaskan diri dari perangkap budaya, kemiskinan, dan keterbelakangan. Pemberdayaan ini harus diikuti dengan memperkuat potensi, daya, dan karakter yang dimiliki oleh kaum perempuan. Dalam kontek pembangunan nasional, pemberdayaan perempuan berarti upaya menumbuhkembangkan potensi dan peran perempuan dalam semua dimensi kehidupan. Perempuan akan mengabil peran-peran penting dalam kapasitasnya sebagai makhluk sosial, terutama dalam rangka peningkatan kualitas pendapatan keluarga. Lembaga-lembaga local yang ada lebih tepat bila diperankan secara langsung oleh kaum perempuan, baik yang bergerak dalam bidang sosial maupun ekonomi. Sesungguhnya kultur perempuan yang ada pada sebagian masyarakat Indoensia adalah bersifat guyub (komunal). Kuatanya daya komunalitas ini tercermin dari masih eksisnya lembaga-lembaga yang bergerak dalam bidang kewanitaan, seperti PKK, Posyandu, benuk-bentuk arisan warga dan sejenisnya. Kuatnya ikatan perempuan dalam pengurusan kelembagaan menjadi salah satu asset strategis yang harus dikembangkan dan ditingkatkan, sehingga dapat mengangkat peran perempuan dalam kehidupan bermasyarakat secara nyata. Realitas semacam ini akan lebih baik bila dikembangkan ke arah penguatan institusi di bidang perekonomian. Kegiatan institusi local di bidang ekonomi bagi kaum perempuan, di samping mempererat ikatan-ikatan mondial dan sosial, juga dapat meningkatkan produktivitas perempuan yang muaranya dapat menambah income (pendapatan) keluarga. Pada akhirnya kegiatan-kegiatan seperti ini dapat mempercepat pembangunan Nasional dan mengatasi krisis ekonomi yang dimulai dari sisi kehidupan yang paling mikro, yakni keluarga. Terkait dengan signifikansi peran perempuan dalam pemberdayaan dan peningkatan pendapatan ekonomi keluarga, PKK mempunyai prioritas program berupa Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K). UP2K ini dapat dijadikan sebagai basis implementasi pemberdayaan perempuan di tingkat praktis. Potensi, daya, dan karakter perempuan yang tidak kalah penting dan bobotnya dengan laki-laki dapat menjadikan program UP2K-PKK sebuah program unggulan dalam tataran program social safety net (jaring pengaman social), sebagai salah satu upaya menolong masyarakat dari keterpurukan ekonomi dengan jalan memberdayakan dan membangun masyarakat menjadi individu atau keluarga yang mandiri.[3] Pada tataran ini, maka dapat diformulasikan bahwa program UP2K-PKK sebagai basis pemberdayaan perempuan merupakan upaya untuk memecahkan belenggu sosial budaya berupa konstruksi sosial yang telah menginternal pada perempuan, yaitu dengan cara langsung memberi peran ekonomi kepada kaum perempuan terutama pada lapisan masyarakat yang tidak mampu. Dengan demikian program UP2K-PKK akan menjadi sebuah suprastruktur yang efektif bagi kaum perempuan untuk memainkan peran dan membuktikan kualitas, kapasitas, dan kapabelitasnya 6+sebagai orang yang dapat berkiprah pada sector ekonomi khususnya dan sector-sektor kehidupan lain pada umumnya. Banyak hasil studi yang menunjukan bahwa investasi SDM perempuan menghasilkan returns yang lebih tinggi melalui peningkatan produktivitasnya.[4] III ERA GLOBALISASI DAN PENGEMBANGAN UP2K-PKK Zaman neoteknologi dari masa ke masa terutama pada masyarakat modern sekarang ini mengalami perkembangan yang cukup pesat. Terutama setelah ditemukannya teknologi komunikasi yang semakin canggih. Teknologi komunikasi dengan bantuan satelit dan komputer telah melahirkan era globalisasi. Era globalisasi yaitu suatu era (masa) di mana Dunia relatif semakin sempit karena komunikasi antar negara semakin cepat, juga menjadi semakin kompleks karena kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang amat pesat dan berpengaruh dalam seluruh proses kehidupan manusia.[5] Fenomena globalisasi ini pada Millenium ke-3 telah mampu merasuk pada semua dimensi kehidupan di berbagai belahan Dunia, terutama dalam bidang ekonomi dengan stressing point-nya pada permasalahan liberalisasi ekonomi atau free trade (perdagangan bebas). Satu tahun ke depan di tingkat regional kita akan dihadapkan dengan Asean Fee Trade Area (AFTA), sehingga membutuhkan antisipasi yang lebih kritis terhadap dampak yang akan ditimbulkannya. Pada masa kini perkembangan lingkungan strategis cenderung multikompleks dan interdependensi (saling ketergantungan). Tidak ada satu kawasan atau negara pun yang dapat melakukan kegiatan ekonominya secara sendiri, tanpa mempunyai ketergantungan investasi, factor produksi, dan pasar dari kawasan/negara lainnya. Bergulirnya liberalisasi perdagangan semacam ini akan membawa peluang dan tantangan bagi produk-produk barang dan jasa Indonesia. Peluang ini dapat dimanfaatkan oleh keberadaan usaha kecil dalam bentuk usaha informal –termasuk di dalamnya UP2K-PKK--, untuk meningkatkan kualitas, kuantitas, dan kontinyutas produknya, sehingga dapat bersaing dengan produk-produk dari luar. Sebab kunci dari globalisasi adalah sebuah persaingan (competitiveness) secara bebas dan dapat memuaskan konsumen.[6] Dalam kondisi percaturan global seperti ini dan badai krisis ekonomi yang belum berakhir menerpa bangsa Indoensia, maka peran UP2K-PKK yang tergolong pada usaha kecil sangat diharapkan eksistensinya. Hal ini disebabkan model UP2K-PKK akan mampu bertahan terhadap krisis ekonomi dan situasi liberalisasi perdagangan atau percaturan perekonomian global daripada perusahaan-perusahaan besar dan menengah, karena tidak tergantung pada pasar formal dan dana pinjaman yang sangat besar. Di samping itu, UP2K-PKK cenderung menghasilkan kebutuhan pokok (necessities) dan bukan barang mewah (luxuries).[7] Produk UP2K-PKK dapat dikonsumsi oleh semua kalangan masyarakat, sehingga tingkat perputaran modalnya akan sangat cepat yang sudah barang tentu akan mempercepat juga poses produksinya. Oleh karena itu upaya pengembangan UP2K-PKK dalam era globalisasi harus ditekankan pada tiga hal. Pertama, mempertahankan dan meningkatkan kualitas produk. Produk yang dihasilkan harus benar-benar baik secara kualitatif dan dapat dibuktikan tingkat kualitatifnya. Karena pada era liberalisasi perdagangan ini, konsumen menuntut ketahanan kualitas sebuah produk yang diinginkannya, sebab semakin banyaknya alternatif yang dapat diperoleh oleh konsumen. Kedua, memacu kuantitas produk yang dihasilkan. Dalam hal ini tingkat produktivitas yang dipicu oleh factor efesiensi dan efektifitas harus dikedepankan. Dengan kunatitas hasil produksi yang tinggi, sangat dimungkinkan dapat mempengaruhi milieu pasar yang cenderung menginginkan banyak alternatif. Ketiga, menjaga kontinyuitas produk yang akan memantapkan kepercayaan pasar terhadap produk-produk yang dihasilkan. Kontinyuitas ini akan memberikan sebuah labelisasi terhadap UP2K sebagai salah satu jenis usaha yang mampu memberikan pelayanan (service) terhadap konsumen (customer) yang bersifat simultan. Faktor penentu di era globalisasi dan liberalisasi perdagangan di samping kualitas daya saing, juga pemberian layanan yang baik (good service) terhadap konsumen. Dengan kemampuan meberikan pelayanan yang baik, maka secara tidak langsung merupakan asset advertising bagi para konsumen. Salah satu bentuk pelayanan yang baik itu dapat diwujudkan dengan ketahanan kontinyuitas produk UP2K-PKK. Maka mendorong UP2K-PKK untuk tetap survive dalam lini kegiatan ekonomi kerakyatan harus menjadi perhatian utama (primary attention) pihak pemerintah dan mendapatkan stimulan dari masyarakat sebagai pelaku utamanya. Link terkait
Selengkapnya...

Minggu, 25 September 2011

Pentingnya Peran Ayah Mengasuh Anak Sejak Balita

KOMPAS.com - Anak membutuhkan peran dan sosok ayah, terutama mereka yang mulai beranjak remaja. Sayangnya, kehadiran ayah dalam kebanyakan keluarga tak dirasakan secara psikis meski secara fisik ia hadir di rumah. Peran pengasuhan lebih banyak dilimpahkan kepada ibu. Alhasil, saat tanda pubertas datang pada anak remaja (terutama anak laki-laki), mereka tak punya teman bicara dan tak punya panutan untuk berperilaku sesuai peran gendernya. Anak membutuhkan ayah yang bisa merangkul sejak dirinya masih balita, dan memantau tumbuh kembangnya termasuk saat masa pubertas. Anak akan memiliki sikap terbuka kepada orangtua, jika orangtua sudah membangun kedekatan dengan anak sejak anak masih kecil. "Jika orangtua sudah membagi peran sejak anak lahir, anak bisa mengindentifikasi peran ayah dan ibunya. Pembagian peran dimulai sedini mungkin, saat toilet training misalnya. Ayah bertugas mengajarkan anak laki-laki, dan ibu mengajarkan anak perempuannya. Kedekatan yang dibangun sejak dini membuat anak akan terbuka di kemudian hari kepada ayah atau ibunya," jelas psikolog dra M Louise, MM, Psi, saat peluncuran buku Panik Saat Puber? Say No!!! karya dr Aditya Suryansyah Semendawai, SpA, di Magenta Cafe, Pasific Place Jakarta, Rabu (6/4/2011). Komunikasi dan hubungan ayah-anak yang dibangun sejak kecil akan memengaruhi tumbuh kembang anak. Saat beranjak remaja dan mengalami pubertas, anak yang dekat dengan ayahnya takkan sungkan membicarakan masalah yang dihadapinya. "Anak akan datang ke ayah atau ibu sesuai kebutuhannya, jika sejak kecil mereka mengenal pembagian peran orangtuanya. Anak laki-laki, saat menghadapi masalah pubertas, akan lebih terbuka berbicara dengan ayah ketimbang ibunya. Begitupun dengan anak perempuan, akan lebih nyaman membicarakan menstruasi kepada ibunya. Di sinilah pentingnya pembagian tugas ayah ibu dalam mengasuh anak sejak kecil. Karenanya ayah harus memulai bicara dengan anak sebagai teman, bulan sebagai diktator. Sebuah keluarga membutuhkan tokoh laki-laki, dalam hal ini ayah, sebagai panutan. Terutama panutan anak laki-laki dalam keluarga, supaya ia bisa belajar cara berpikir laki-laki dari ayahnya, dan berperilaku sesuai gender," lanjut Louise. Saat anak memasuki masa pubertas, kebutuhan sosok ayah ini sangat dibutuhkan. Ayah perlu memulai pembicaraan dengan anak, mengikuti perubahan dalam diri anak, termasuk secara psikis. "Orangtua perlu bicara dengan hati, pendekatan dengan cinta," lanjut Louise, menambahkan bahwa ayah juga perlu berbicara dengan anak sesuai kebutuhannya dengan menjadikan anak remaja sebagai sahabat.
Selengkapnya...